Jumat, 05 November 2010

probiotik 2

Penatalaksanaan penggunaan antibiotik harus ditegakkan supaya tidak terjadi resisten di dalam tubuh. Pernyataan itu dikemukakan Rektor Universitas Indonesia dr Usman Chatib Warsa SpMK PhD dalam pertemuan ilmiah KPPIK FK-UI, Jumat (5/3).

"Penatalaksanaan antibiotik sangat penting dilakukan karena bisa menyebabkan resisten apabila tidak diatur. Perspektif global saat ini penggunaan antibiotik yang terlalu sering justru membuat tubuh pasien semakin kebal terhadap obat tersebut," kata Usman.

Lebih berbahaya lagi, lanjutnya, penggunaan antibiotik yang berlebihan akan merusak sistem kekebalan tubuh itu sendiri. Untuk itu solusi yang terbaik adalah kembali ke alam dengan mengembalikan populasi bakteri baik di dalam tubuh untuk menjaga ketahanan tubuh agar tidak mudah sakit.

Saluran pencernaan mulai mulut, tenggorok, lambung, usus kecil, dan usus besar dilalui oleh makanan yang dikonsumsi manusia sehari-hari, termasuk di dalamnya bakteri baik yang berguna untuk kesehatan tubuh dan bakteri jahat yang mengganggu kesehatan.

Populasi bakteri dalam eksosistem saluran pencernaan orang sehat, menurut Prof Dr Kamiya Shigeru dari Department of Infectious Diseases, Kyorin University School of Medicine Tokyo, umumnya stabil apabila mengonsumsi diet yang berimbang. Namun, pola hidup yang selalu berubah termasuk pola makan dan kondisi tubuh setiap orang yang berbeda, mengubah stabilitas ekosistem tersebut.

"Untuk itu perlu sebuah manajemen mikroflora usus caranya meningkatkan proporsi bakteri baik dan menekan jumlah bakteri jahat. Caranya dengan mengonsumsi bakteri baik atau probiotik. Berbagai senyawa hasil metabolisme bakteri baik, seperti asam laktat, H2O2, bacteriocin bersifat antimikroba bagi bakteri jahat. Senyawa-senyawa racun yang dihasilkan dari metabolisme protein dan lemak, serta hasil pemecahan enzim tertentu bisa berkurang, sehingga mengurangi beban hati, bila kita rajin mengonsumsi bakteri baik," jelasnya.

Di alam, lanjut Shigeru, bakteri laktat bisa ditemukan pada dua sistem ekologi, yaitu saluran pencernaan manusia/hewan dan produk makanan. Bakteri asam laktat merupakan kontaminan alami pada susu karena tersedianya substrat utamanya, yaitu laktosa. Produk susu fermentasi seperti yogurt, yakult, susu asam, keju, mentega merupakan hasil kerja bakteri asam laktat.

Sedangkan bakteri asam laktat penghuni asli pada saluran pencernaan manusia di antaranya Bifidobacterium bifidum, Bifidobacterium longum, Bifidobacterium infantis (pada bayi), Bifidobacterium adeloscentris, Lactobacillus acidophilus, dan Lactobacillus reuteri.

Dari hasil uji klinis berbagai probiotik yang sudah terbukti khasiatnya antara lain Lactobacillus acidophilus LA1 untuk meningkatkan kekebalan tubuh. Lactobacillus GG (ATCC 53103) untuk meningkatkan kekebalan tubuh dan proteksi terhadap rotavirus, Lactobacillus casei Shirota Strain untuk meningkatkan kekebalan tubuh dan mencegah diare rotavirus. Sedangkan Bifidobacterium bifidum untuk mencegah diare karena virus.

Diare

Munculnya bakteri jahat pun tidak bisa dihindari karena lingkungan yang tidak steril. Maka terjadilah diare pada anak-anak sangat sering dijumpai di Indonesia. "Terjadinya diare karena jumlah bakteri jahat lebih banyak dibandingkan dengan bakteri baik. Pada anak-anak sering kali ditemukan diare yang disebabkan sumber makanan yang kurang higienis maupun pencemaran kotoran," kata Prof Dr dr Agus Firmansyah SpA (K) dari Bagian Anak FKUI.

Di dalam setiap tubuh manusia menurut Prof Agus terdapat mikroflora yang jumlahnya mencapai lebih dari 500 ribu spesies dan beratnya 1-1,5 kg. Terjadinya diare disebabkan tumbuhnya bakteri patogen seperti E.coli, Vibrio cholerae atau Salmonella typhii yang tumbuh pesat. Masalah lainnya bakteri juga melepaskan enzim-enzim B-glukoronidase, azoreduktase dan nitroreduktase yang membantu proses terbentuknya senyawa karsinogenik dalam saluran pencernaan, senyawa karsinogenik ini menyebabkan penyakit kanker.

"Pengobatan dengan antibiotik akan mengganggu mikroflora usus yang berakibat diare. Penelitian di sebuah rumah sakit terhadap 55 bayi berusia 5-24 bulan dirawat karena diare. Mereka diberi susu formula yang mengandung Bifidobacterium bisa mengurangi diare. Bahkan, probiotik bisa untuk mencegah nosokomial diare di rumah sakit."

Menurut Prof Agus Bifidobacterium bisa mencegah diare yang disebabkan antibiotik.

"Pencegahan diare tidak perlu menggunakan antibiotik. Gunakan probiotik agar tubuh tidak resisten. Karena penggunaan antibiotik justru akan meningkatkan bakteri jahat dan memunculkan faktor risiko lainnya."

Akan tetapi kenyataan sekarang ini masih banyak dokter yang memilih memberikan antibiotik apabila terdapat pasien anak terkena diare. "Seharusnya tidaklah demikian. Anak-anak yang mengalami diare cegah dengan probiotik. Misalnya diare karena susu bisa menggunakan susu yang low lactose atau probiotik."

Tentunya probiotik yang diperlukan harus sesuai dengan kebutuhan tubuh. "Kira-kira 6,5 kali sepuluh pangkat sembilan yang dibutuhkan tubuh."

Jumlah probiotik sebanyak 6,5 kali sepuluh pangkat sembilan ini terdapat dalam satu botol Yakult yang isinya 65 cc. "Tidak hanya soal diare saja yang bisa diatasi dengan probiotik, melainkan juga masalah sembelit dan kekebalan tubuh, sehingga tidak mudah jatuh sakit," ujar Prof Agus.

Minuman probiotik seperti Yakult harus disimpan di suhu yang dingin agar komponen probiotiknya tetap stabil. ''Apabila di tempat panas jumlah probiotiknya bisa turun dan rasanya lebih asam.''

http://www.gizi.net/cgi-bin/berita/fullnews.cgi?newsid1079411666,53047,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar